Sebelum aku memulai, aku ingin mengucapkan HBD kepada kadua temanku, Akmal dan Rohma. Semoga tambah baik dan tambah pinter, amiin… Kali ini aku memulai menulis catatan ini ketika aku baru bangu tidur, tapi bangun tidur kali ini sangat istimewa dan berbeda dengan bangun tidur yang biasa aku lakukan. Karena bangun tidur yang aku maksud kali ini adalah bangun tidur dari hibernasiku di kelas. Sebenarnya aku sangat anti untuk tidur di kelas, tapi karena guru tidak bisa hadir ditambah keadaan yang sangat mendukung untuk tidur, akhirnya aku putuskan untuk tidur walau awalnya itu berat aku lakukan. Tapi dengan sedikit ramuan perangsang tidur yaitu membaca buku, alhamdulillah aku bisa tidur pulas sampai empat jam pelajaran. Jangan di tiru ya, kecuali kalau kamu sudah mempertimbangkan manfaat dan dampaknya.
Nah, setelah aku puas tidur 4 jam pelajaran nih, ya sekitar 4x40 menit = 160 menit = 2 jam 40 menit…(waduh lama juga ya). Aku langsung menuju ke kamar mandi untuk cuci muka. Pas sampai di depan kamar mandi, aku merasakan dan mendengarkan ada satu suara mistis yang membuatku merinding. Tidak hanya itu saja, aku merasa bahwa ada hujan kerikil di pesantrenku ini. Dan setelah ku tengok kanan dan kiri, ternyata tak ada siapa-siapa. Tapi perasaan merindingku ini terjawab setelah aku menengok ke atas, ternyata di atas sana ada pak tukang yang masih membersihkan sisa-sisa puing bangunan tingkat tiga. Maka tak heran jika debu dan kerikilnya-pun jatuh dan mengenai aku. Dan karena aku termasuk santri yang selektif; belajar dari pengalamanku kemaren; kali ini aku sangat berhati-hati dalam memilih calon kamar mandi yang akan aku gunakan. Sebelum masuk, aku periksa kebersihan dan kelengkapan alatnya dulu. Setelah masuk, aku mengisi full timba mandi dengan air. Dan ketika sudah beres, aku segera mengunci pintu kamar mandi dan langsung beraksi.
Sepulang dari kamar mandi, aku tak lupa mampir ke tempat jemuran. Dan sayangnya sampai hari ini pun jemuranku belum bisa di download. Di download itu kalau dalam bahasanya orang yang desa bermakna mengangkat jemuran. Alias ketika aku cek, ternyata jemuranku masih belum kering sempurna. Dan ini berarti juga bahwa aku akan kehabisan stok kaos dan sarung untuk sehari kedepan. Dan solusi satu-satunya adalah dengan nebeng punya temen. (he..he..he..)
Dan ketika aku telah berputus asa karena jemuranku belum bisa di download, aku segera kembali ke kelas. Ternyata ketika itu, guruku juga masih belum ada. Sebenarnya aku berniat untuk meneruskan hibernasiku tadi, tapi ketika aku akan melanjutkannya, hatiku tersentuh untuk mengakhiri hibernasi ini dan aku putuskan untuk menulis catatan ku hari ini.
Sebelum aku menyelesaikannya, guru fiqihku datang dengan panampilan yang berbeda dengan biasanya. Yang biasanya beliau mengenakan pakaian seragam guru dan berpeci, kali ini beliau memakai kostum jadul yaitu berbaju ala jawa madura dan memakai blangkon. Dan setelah kami tanya tentang hal itu, keheranan kami-pun terjawab. Beliau mengungkapkan kalau hal ini terpaksa beliau lakukan karena menaati anjuran yang telah disampaikan oleh bapak walikota Blitar sebelumnya. Dan ketika mendengar jawaban itu, muncul di benakku “Berarti semua guru akan mengenakan kostum jadul. Lalu apa ya yang akan dikenakan oleh Pak’e (Bapak Pengasuh Pondok) yang akan mengisi jam terakhir kami nanti ?”. Wah, kelihatannya asik juga nih.
Setelah bel pergantian pelajaran berbunyi, aku langsung bersiap-siap untuk menunggu kedatangan pak’e. Dalam khayalanku, Pak’e akan mengenakan kostum sebagaimana yang dikenakan oleh Ustadz Muslim, guru fiqihku. Tak berselang waktu lama, Pak’e muncul dengan kostum batik dan berpeci. Walau aku agak kecewa karena tidak sesuai dengan yang aku bayangkan, tapi tak apa-apa lah. Kami-pun melanjutkan KBM sebagai mana biasa.
Setelah bel pulang berbunyi, aku langsung persiapaan untuk sholat dzuhur. Dan seusai sholat dzuhur, kami istirahat dan akan bangun nanti sekitar pukul 3 sore. Setelah bangun aku langsung menuju ke masjid untuk sholat jama’ah ‘ashar. Setelah jama’ah, aku segera bersiap untuk masuk kelas untuk mengikuti KBM sore. Dan kali ini, akan diisi oleh guru bahasa Indonesiaku, Ustadzah Nurwahyuni. Nah, karena masih dalam rangka kostum jadul, aku-pun berfikir kalau beliau akan mengenakan baju kebaya khas R.A Kartini. Tapi setelah satu menit, dua menit, tiga menit, dan seterusnya, beliau tetap tidak muncul juga. Akhirnya aku putuskan untuk pulang duluan dan mandi. Karena hari ini kami sepondok puasa (bagi yang menjalankan), seusai mandi aku langsung antri untuk mengambil jatah buka puasa.
Dan ketika suara adzan maghrib berkumandang, kami segera membatalkan puasa dengan ta’jil.
Hari ini, 5 April 2015 adalah hari yang sangat menyenangkan sekaligus memprihatinkan bagiku. Oh iya, sebelumnya aku jadi ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun adikku yang ke-10, “Happy Birthday, ya Dik”. Hari ini aku memiliki cukup banyak kegiatan yang mungkin bisa menyibukkan aku. Dimulai dari tadi pagi setelah subuh, kami se-pondok melaksanakan perintah Rasulullah yang disampaikan oleh Pak’e (Panggilan untuk Bapak Pengasuh Pondok) yaitu untuk menjaga kebersihan, yang salah satunya dapat dipraktikkan dengan ro’an atau kerja bakti. Ro’an ini memang sudah menjadi sebuah ritual mingguan yang telah berjalan sejak puluhan tahun lalu. Di dunia pesantren, ro’an adalah salah satu cara yang bisa dilakukan sebagai tanda kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Saat ro’an kita akan melakukan hal apa saja, asalkan bisa menciptakan suasana yang bersih di pesantren. Mulai dari memungut dan mengumpulkan sampah di sekitar asrama, sampai mengambil sampah bungkus sabun di selokan kamar mandi dengan tangan. Kalau dibayangin, waw sangat tidak menjijikkan (ironi). Tapi walaupun demikian, kami selalu melakukannya tanpa pamrih dan ikhlas karena takut hukuman dari pak’e.
Selesai ro’an, aku langsung berangkat ke tempat cuci baju, walaupun dinamakan tempat cuci baju, tapi tempat ini tidak menjamin semua baju akan bersih setelah dicuci di sini, malah bisa jadi akan tambah kotor. Bagaimana tidak, kalau tempat disekitarnya saja banyak aku jumpai lumut yang sangat lebat, bahkan jika diinjak atau diduduki akan terasa empuk dan lembut seperti permadani termahal. Tapi, mau tidak mau ya itu tempat cuci baju satu-satunya di pesantren kami. Jadi tinggal pilih, cuci baju di sini atau tidak usah cuci baju. Dan karena aku termasuk anak yang suka kebersihan, aku lebih memilih cuci baju walau harus dengan ekstra hati-hati. Salah sedikit saja, akibatnya bisa fatal. Bisa-bisa akan cuci baju dua kali atau bahkan lebih. Nah, hari ini aku memiliki baju kotor yang sedikit seperti biasanya, yaitu sekitar 3, lebih tepatnya tiga timba. Memang cukup melelahkan, namun ya itulah roda kehidupan yang harus ku lakukan. Itu semua atas kehendak Yang Di Atas.
Setelah aku selesai mencuci baju dan sekaligus menjemurnya, aku langsung mandi. Dan pada saat aku antri, ya maklum di dunia pesantren itu kalau tanpa antri bagaikan teh tanpa gula atau mungkin bagaikan kopi tanpa cethe, pokoknya kalau tanpa antri itu kurang afdhol. Nah saat itu, aku kebingungan untuk memilih kamar mandi yang cocok untukku. Saat aku mulai mengetuk pintu kamar mandi dan mengatakan “sek suwi ra ?” maka akan terdengar jawaban “yo”. Dua kalimat itu seakan-akan sudah menjadi sepasang kekasih yang tak bisa terpisahkan. Namun, aku tidak kehabisan akal, dan aku-pun menemukan ide baru. Sekarang pertanyaan itu aku modifikasi dan aku bertanya “diluk ngkas to?” maka secara spontan dia pasti menjawab “yo”, dan saat itulah aku mulai menemukan setitik cahaya cerah di langit malam. Namun tak tahu kenapa, kesialan yang bertubu-tubi menyambutku, mulai dari tempat cuci yang sangat bersih (ironi) sampai antrian yang super panjang. Dan kini aku disambut kesialan lagi, yaitu kran shower mati. Maka aku harus mandi dengan meengandalkan kran kecil dan dengan jongkok. Memang ini merupakan cara mandi yang baru aku temukan, dan kelihatannya bisa dijadikan variasiku dalam mandi. Nah, setelah beberapa menit aku mulai nyaman denga cara itu, aku disambut kesialan lagi, yaitu air mati sebelum aku selesai mandi. Karena keadaan sudah sangat genting, jadi aku terpaksa mengeringkan badanku yang masih bersabun itu dengan handuk. Dan ini juga pengalamanku yang perdana seumur hidup ini.
Tapi Alhamdulillah, memang Tuhan itu adil dan roda itu berputar, setelah serentetan kesialan itu aku lewati, kini aku bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan bahagia.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact