Senin, 06 April 2015

06 April 2015

Sebelum aku memulai, aku ingin mengucapkan HBD kepada kadua temanku, Akmal dan Rohma. Semoga tambah baik dan tambah pinter, amiin… Kali ini aku memulai menulis catatan ini ketika aku baru bangu tidur, tapi bangun tidur kali ini sangat istimewa dan berbeda dengan bangun tidur yang biasa aku lakukan. Karena bangun tidur yang aku maksud kali ini adalah bangun tidur dari hibernasiku di kelas. Sebenarnya aku sangat anti untuk tidur di kelas, tapi karena guru tidak bisa hadir ditambah keadaan yang sangat mendukung untuk tidur, akhirnya aku putuskan untuk tidur walau awalnya itu berat aku lakukan. Tapi dengan sedikit ramuan perangsang tidur yaitu membaca buku, alhamdulillah aku bisa tidur pulas sampai empat jam pelajaran. Jangan di tiru ya, kecuali kalau kamu sudah mempertimbangkan manfaat dan dampaknya.

Nah, setelah aku puas tidur 4 jam pelajaran nih, ya sekitar 4x40 menit = 160 menit = 2 jam 40 menit…(waduh lama juga ya). Aku langsung menuju ke kamar mandi untuk cuci muka. Pas sampai di depan kamar mandi, aku merasakan dan mendengarkan ada satu suara mistis yang membuatku merinding. Tidak hanya itu saja, aku merasa bahwa ada hujan kerikil di pesantrenku ini. Dan setelah ku tengok kanan dan kiri, ternyata tak ada siapa-siapa. Tapi perasaan merindingku ini terjawab setelah aku menengok ke atas, ternyata di atas sana ada pak tukang yang masih membersihkan sisa-sisa puing bangunan tingkat tiga. Maka tak heran jika debu dan kerikilnya-pun jatuh dan mengenai aku. Dan karena aku termasuk santri yang selektif; belajar dari pengalamanku kemaren; kali ini aku sangat berhati-hati dalam memilih calon kamar mandi yang akan aku gunakan. Sebelum masuk, aku periksa kebersihan dan kelengkapan alatnya dulu. Setelah masuk, aku mengisi full timba mandi dengan air. Dan ketika sudah beres, aku segera mengunci pintu kamar mandi dan langsung beraksi.

Sepulang dari kamar mandi, aku tak lupa mampir ke tempat jemuran. Dan sayangnya sampai hari ini pun jemuranku belum bisa di download. Di download itu kalau dalam bahasanya orang yang desa bermakna mengangkat jemuran. Alias ketika aku cek, ternyata jemuranku masih belum kering sempurna. Dan ini berarti juga bahwa aku akan kehabisan stok kaos dan sarung untuk sehari kedepan. Dan solusi satu-satunya adalah dengan nebeng punya temen. (he..he..he..)

Dan ketika aku telah berputus asa karena jemuranku belum bisa di download, aku segera kembali ke kelas. Ternyata ketika itu, guruku juga masih belum ada. Sebenarnya aku berniat untuk meneruskan hibernasiku tadi, tapi ketika aku akan melanjutkannya, hatiku tersentuh untuk mengakhiri hibernasi ini dan aku putuskan untuk menulis catatan ku hari ini.

Sebelum aku menyelesaikannya, guru fiqihku datang dengan panampilan yang berbeda dengan biasanya. Yang biasanya beliau mengenakan pakaian seragam guru dan berpeci, kali ini beliau memakai kostum jadul yaitu berbaju ala jawa madura dan memakai blangkon. Dan setelah kami tanya tentang hal itu, keheranan kami-pun terjawab. Beliau mengungkapkan kalau hal ini terpaksa beliau lakukan karena menaati anjuran yang telah disampaikan oleh bapak walikota Blitar sebelumnya. Dan ketika mendengar jawaban itu, muncul di benakku “Berarti semua guru akan mengenakan kostum jadul. Lalu apa ya yang akan dikenakan oleh Pak’e (Bapak Pengasuh Pondok) yang akan mengisi jam terakhir kami nanti ?”. Wah, kelihatannya asik juga nih.

Setelah bel pergantian pelajaran berbunyi, aku langsung bersiap-siap untuk menunggu kedatangan pak’e. Dalam khayalanku, Pak’e akan mengenakan kostum sebagaimana yang dikenakan oleh Ustadz Muslim, guru fiqihku. Tak berselang waktu lama, Pak’e muncul dengan kostum batik dan berpeci. Walau aku agak kecewa karena tidak sesuai dengan yang aku bayangkan, tapi tak apa-apa lah. Kami-pun melanjutkan KBM sebagai mana biasa.

Setelah bel pulang berbunyi, aku langsung persiapaan untuk sholat dzuhur. Dan seusai sholat dzuhur, kami istirahat dan akan bangun nanti sekitar pukul 3 sore. Setelah bangun aku langsung menuju ke masjid untuk sholat jama’ah ‘ashar. Setelah jama’ah, aku segera bersiap untuk masuk kelas untuk mengikuti KBM sore. Dan kali ini, akan diisi oleh guru bahasa Indonesiaku, Ustadzah Nurwahyuni. Nah, karena masih dalam rangka kostum jadul, aku-pun berfikir kalau beliau akan mengenakan baju kebaya khas R.A Kartini. Tapi setelah satu menit, dua menit, tiga menit, dan seterusnya, beliau tetap tidak muncul juga. Akhirnya aku putuskan untuk pulang duluan dan mandi. Karena hari ini kami sepondok puasa (bagi yang menjalankan), seusai mandi aku langsung antri untuk mengambil jatah buka puasa.

Dan ketika suara adzan maghrib berkumandang, kami segera membatalkan puasa dengan ta’jil.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;